Sabtu, 06 Juni 2015

Ratusan Warga Nahdliyin Padati Aula SMK Ma'arif 2 Gombong dalam acara Bedah Buku Agama NU Untuk NKRI


Paham radikalisme yang bergentayangan saat ini berpotensi memecahbelahkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kurangnya benteng pertahanan pada idelologi setiap insan, wabilkhusus para generasi muda, memberikan peluang paham tersebut berkembang biak. Inilah secuil intisari dari bedah buku yang berjudul “Agama NU untuk NKRI”.

Pengurus Anak Cabang Gerakan Pemuda (PAC GP) Ansor Kecamatan Gombong menggelar Bedah Buku dengan judul Agama NU untuk NKRI yang disampaikan langsung oleh Penulis Buku Dr. K.H. Ahmad Baso pengurus PBNU Sabtu, 6 Juni 2015, yang dilaksanakan di Aula SMK Ma’arif 2 Gombong yang terletak di Jalan Kemukus No. 96 B Gombong Kabupaten Kebumen.
Acara yang dihadiri oleh Ketua PC NU Kebumen, Kepala Dinas Dikpora Kebumen, Ketua MUI Kebumen, Ketua MWC NU Gombong, Pengurus MWC, Pengurus Ranting se Distrik Gombong, Pengurus GP Ansor dan ratusan hadirin dibuka pada pukul 13.30 WIB, diawali dengan pembacaan tilawatil Al-Qur’an yang disampaikan oleh Saudara Fahrudin Majid siswa SMK Ma’arif 5 Gombong kemudian dilanjutkan dengan Lagu Indonesia Raya dengan dirijen Pameita Kurniawati, S.Pd.

Ketua Panitia Khozin, S.Pd.I menyampaikan selamat datang kepada para hadirin yang telah menyempatkan waktunya untuk mengikuti acara tersebut, disampaikan juga ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya kegiatan tersebut.

Dalam sambutannya Ketua PC NU Kab. Kebumen K.H. Drs. Masykur Rozaq, M.Pd.I menyampaikan kebanggaan kepada pemuda Ansor Kecamatan Gombong yang telah menyelenggarakan acara bedah buku dengan judul Agama NU untuk NKRI.

“Memang NU rahmatan lil ‘aalamiin dapat memberikan pencerahan kepada semua ummat.” Tegas Kyai

Sementara itu Sambutan Bupati Kebumen H. Buyar Winarso, S.E. yang dibacakan oleh Kepala Dinas Dikpora Kab. Kebumen H. Ahmad Ujang Sugiono, S.H., menyampaikan, Apresiasi setinggi-tingginya kepada Ansor Gombong yang telah menyelenggarakan acara iin yang bertujuan sebagai sarana untuk membangun persatuan dan kesatuan NKRI.

Penulis Dr. K.H. Ahmad Baso pengurus PBNU dalam kiprahnya sudah cukup banyak buku tentang agama ditulisnya. Dalam penyampaiannya “Bahwa sebagai generasi muda, dan akan mengambdi selama puluhan tahun ke depan, tanpa benteng yang kuat Indonesia akan menjadi buram. Kenapa demikian, karena menyangkut ideologi kebangsaan yang saat ini cukup menjadi pengaruh.” kata Ahmad tegas.

Pendidikan kebangsaan di kalangan anak muda, menurut Ahmad, mulai “kering-kerontang”. Tidak ada instrumen yang mampu membuat para calon pemegang tongkat estafet pemimpin bangsa untuk belajar efektif. Sebagai contoh ziarah kubur. Dalam suatu kisah di bukunya tersebut, ziarah kubur dilakukan untuk membangun, mempererat persatuan dan solidaritas masyarakat. Terlepas darimanapun suku, agama dan keyakinannya.

“Bayangkan hanya kata ini bisa mempersatukan seluruh suku, bisa meredam konflik, kerusuhan konflik bisa dicegah, itu dengan catatan benteng yang dibutuhkan harus ditanam terlebih dahulu. Sehingga ketika ada pancingan dari luar dari manapun mereka sudah siap,” urainya

Lantas, benteng seperti apakah yang dibutuhkan anak muda saat ini"” Menjawab pertanyaan ini, Ahmad menuturkan, sebagai generasi yang nantinya duduk di kursi kepemimpinan, dibutuhkan senjata penangkal atau jimat. Dengan kondisi Indonesia yang plural, yang memiliki banyak agama, ada yang mengatakan Islam dengan berbagai model. Serta, menjustifikasi masing-masing jenis Islam adalah benar. Menurutnya, hal itu paham yang salah.

“Inilah yang menjadi celah, orang luar mampu menghancurkan kita. Mampu mengutak-atik kita dan akhirnya tidak ada lagi keberagaman. Karena senjata penangkalnya mudah terpancing. Cukup kita akui bahwa ada Islam ini itu, yang model ini salah, Islam yang ini yang benar, di sinilah perlu dibentengi dengan paham tentang Islam Nahdlatul Ulama (NU).” Jelasnya

Maka lanjutnya, jangan sampai kehancuran negara-negara besar melanda Indonesia. Sebagai contoh, saat ini terjadi di Timur Tengah. Sebut saja, Yaman, Irak, Palestina, Syiria, Libiya Pakistan dan lainnya, semua berantakan. Masyarakatnya mendadak jadi miskin.

“Mereka banyak yang terlunta-lunta di luar negeri dan tidak diperhatikan. Kalau anak bangsa mudah dipengaruhi seperti mereka maka mereka sudah pasti akan saling cakar-menyakar.
Persoalannya sebenarnya soal agama, soal perbedaan pendapat yang harus diperhatikan sejak awal. Bahwa model NU ini model efektif yang mampu meredam dan membentengi serta membangun Indonesia, “paparnya.

Cara permulaannya melalui pembelajaran kurikulum di sekolah-sekolah, kurikulum pendidikan di SD, SMP dan SMA hingga kampus, harus ditanamkan paham tersebut. Sebab, jika saja dibuang jiwa kebangsaan sudah pasti jiwa kebangsaan yang dimiliki generasi penerus akan mudah dipengaruhi. Pungkas Ahmad.

Acara ditutup pada pukul 16:00 setelah sesi tanya jawab dengan do’a yang disampaikan oleh Ketua MUI Kebumen Drs. K.H. Nur Sodiq. 

Demikian liputan tentang Acara Bedah Buku Agama Nu Untuk Nkri yang diselenggarakan di SMK Ma’arif 2 Gombong.

Kontributor : Saifudin Madu Go

0 komentar:

Posting Komentar