Wakil Bupati Datangi Paguyuban Sedulur Gombong

Wakil Bupati Kebumen H. Arif Sugiyanto SH hadiri Koempoel Bareng Lansia Gaoel "Paguyuban Sedulur Gombong” di Aula Hotel dan Restaurant Grafika Gombong, Sabtu malam 5 Oktober 2019.

Bantuan keuangan Parpol sudah bisa dicairkan

Bantuan Keuangan Partai Politik (banpol) di Kabupaten Kebumen sudah dapat dicairkan. Kendati demikian hingga memasuki Bulan Oktober 2019 baru Partai Golkar yang sudah menerima bantuan tersebut. Padahal, berdasarkan hasil Pileg 2019 terdapat 9 partai di Kebumen yang berhak menerima banpol.

RSUD Dokter Soedirman Upayakan Zona Bersih dari Korupsi

Upaya Kebumen untuk betul-betul lepas dari momok bernama korupsi agaknya berjalan lamban dengan kecepatan yang rendah, Sebab sampai saat ini baru ada satu organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkab yang mencanangkan pembangunan zona integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM). Satu-satunya OPD tersebut adalah RSUD Dokter Soedirman Kebumen.

914 Kepala Sekolah Ikuti Sosialisasi Percepatan PIP

Bupati Kebumen KH Yazid Mahfudz, membuka acara sosialisasi dan percepatan Program Indonesia Pintar (PIP) tahun 2019 di Aula PLUT UMKM Kebumen, Kamis (10/10).

Bupati Pantau Langsung Tes Tertulis Balon Kades

Sebanyak 28 bakal calon kepala desa mengikuti seleksi tambahan berupa tes tertulis di Ruang Jatijajar Komplek Pendopo Rumdin Bupati Kebumen, Senin (14/10)

Selamat datang di Situs Berita Gombong Official .

BERITA GOMBONG OFFICIAL adalah Grup BERITA GOMBONG Reborn sebagai Media Informasi dan jendela melihat Kota Gombong dengan format baru Grup Publik,sehingga bisa di share seluruh isi Grup..

Ad ius munere soluta deterruisset, quot veri id vim, te vel bonorum ornatus persequeris. Maecenas ornare tortor. Donec sed tellus eget sapien fringilla nonummy. Mauris a ante. Suspendisse quam sem, consequat at, commodo vitae, feugiat in, nunc. Morbi imperdiet augue quis tellus.

Minggu, 31 Januari 2016

Bangkitnya Forum MGMP SMK Ma’arif Kabupaten Kebumen.


MadugoNews (Kebumen) - Pengurus Cabang Lembaga Pendidikan (PCLP) Ma’arif NU Kabupaten Kebumen mengadakan Kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dalam rangka penyusunan naskah Soal Ujian Sekolah yang diselenggarakan di Aula PCLP Ma’arif NU Kebumen jalan Kusuma nomor 96 Kebumen, Minggu (31/1).

Acara yang dihadiri oleh sembilan SMK Ma’arif se Kabupaten Kebumen berjumlah 80 orang guru dari 7 mata pelajaran yaitu Fisika, Kimia, Kewirausahaan, Bahasa Jawa, Penjaskes OR, Ipa dan KKPI ini dibuka dengan pembacaan surat Al-Fatihah yang dipimpin oleh Drs. K.H. Masykur Salim.

Dalam sambutannya Ketua PCLP Ma’arif NU Kabupaten Kebumen, Dr. Imam Satibi, M.Pd.I menyampaikan kebanggaan tersendiri bagi Lembaga Pendidikan Ma’arif Kebumen karena sudah terbentuknya MGMP Guru SMK Ma’arif se Kabupaten Kebumen.

Forum MGMP SMK Ma’arif Kabupaten Kebumen merupakan Forum bermusyawarah dan berbagi pengalaman serta pengetahuan guru-guru mata pelajaran SMK Ma’arif se Kabupaten Kebumen, untuk meningkatkan kompetensi guru-guru mapel dalam kegiatan pengajaran dan pembelajaran di satuan pendidikan masing-masing.  

Lebih lanjut Imam mengatakan bahwa untuk menunjukkan karakter SMK Ma’arif, pihak LP Ma’arif akan terus berusaha melakukan perubahan paradigma yang lebih baik terutama pada hal pelayanan publik dalam sistem pendidikan, ketika ma’arif mutunya bagus maka umat NU pun akan terlihat bagus juga dan itu semua merupakan korelasi bersama antara pihak Ma’arif NU Kebumen dengan umat NU di Kabupaten Kebumen pada khususnya.

“….karena kepuasan pelanggan adalah mutu kerja kita semua, slogan tersebut merupakan konsep paradigma agung Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kabupaten Kebumen yang harus diimplementasikan” tegas Imam

Kami ingin menjadi pelopor bagi sekolah lain, khususnya dalam bidang pendidikan, kami yakin Ma’arif bisa karena kami memiliki potensi untuk itu. Namun kami juga menyadari sepenuhnya bahwa kami masih harus meningkatkan sumber daya manusia di lingkungan ma’arif secara terus menerus.  

Kami berharap forum MGMP menjadi sarana bagi segenap guru-guru SMK Ma’arif se Kabupaten Kebumen sesuai mapelnya masing-masing untuk mengembangkan potensi diri, keterampilan dan kreativitasnya, serta menjadi media untuk saling berbagi pengalaman, pengetahuan, serta hal-hal lain yang berhubungan dengan pengajaran dan pembelajaran yang pada akhirnya bisa menjadi sumbangsih bagi kemajuan bangsa Indonesia tercinta.

“Kami menyadari bahwa tidak ada satupun sistem di dunia ini yang sempurna, kami juga berharap forum MGMP SMK Ma’arif yang sederhana ini bisa memberi manfaat bagi pihak-pihak lain yang memerlukannya.” Imbuh Imam.

Sambutan lain dari Pengurus LP Ma’arif NU Kebumen bidang akademik Warjan, S.Pd., MM menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan penerapan pendidikan di lingkungan Ma’arif Kebumen.

Adapun hal penting yang diberikan kepada para siswa hendaknya sudah harus berbeda dengan sekolah umum lainnya, “karena sekolah kita merupakan sekolah yang berbasis karakter dengan label ma’arif menjadi tanggung jawab besar dari segi moralitas yang harus kita lebih perhatikan”. Tegas Warjan.

Kepala sekolah dan warga sekolah harus memperhatikan kepada siswanya bukan hanya prestasi dalam hal kompetensi tetapi berkarakter yang baik yang menjadi perhatian penting bagi pendidik untuk menerapkan sistem pendidikan di lingkungan Lembaga Pendidikan Ma’arif Kebumen.

“Masalah-masalah penting selanjutnya adalah tentang jiwa kepemimpinan yang harus mulai masuk dalam proses pembelajaran ke siswa mulai dari sekarang, sehingga output siswa nantinya akan lebih bermanfaat dalam masyarakat karena dalam kepemimpinan ada proses pembentukan calon-calon penerus kader NU.” Imbuh bidang akademik sekaligus pengawas sekolah Dinas Dikpora Kebumen.

Sementara itu pengarahan dari Pengurus Wilayah Ma’arif Nu Jawa Tengah yang juga sebagai Kepala SMK Ma’arif 2 Gombong Ngadino, S.Kom menjelaskan bahwa bangkitnya MGMP di lingkungan LP Ma’arif Kabupaten Kebumen ini menindaklanjuti kebijakan Lembaga Pendidikan Ma’arif Wilayah Jawa Tengah bahwa penataan kelembagaan, diberikan di masing-masing cabang khususnya pengelolaan Ujian Semester dan Ujian Sekolah karena besarnya jumlah SMK Ma’arif se Jawa Tengah dengan jumlah 154 SMK Ma’arif.

Ngadino berharap hasil dari MGMP pertama ini ada tindak lanjut kedepan bagi tiap-tiap guru mapel mempunyai forum MGMP sendiri-sendiri sehingga forum ini akan lebih bermanfaat bagi guru mapel SMK Ma’arif se Kabupaten Kebumen. Tegas Ngadino.

Setelah acara seremonial pembukaan selesai, Ngadino membagi kelompok masing-masing guru mapel untuk segera menyusun naskah soal ujian sekolah tahun pelajaran 2015/2016 dimana dalam waktu satu hari harus sudah tersusun dan dikumpulkan kepada Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kabupaten Kebumen. (SaifudinMDG)

Supported by: 


_______________________________________________________
Terima kasih telah berkunjung di Website Personal kami. Mohon berikan komentar Anda untuk meningkatkan kualitas berita kami.
Layanan Liputan : 081327736138 | Email: saifudinmadugo@yahoo.com

SAIFUDIN-23-1-1024x294

Sabtu, 30 Januari 2016

INFO TERBARU !! INI DIA SURAT EDARAN KEMDIKBUD TENTANG PAKAIAN KERJA PEGAWAI TERTANGGAL 26 JANUARI 2016

Selamat Malam Bapak dan ibu Guru salam sejahtera dan salam edukasi !! 
Kemdikbud telah mengeluarkan surat edaran Nomor 1051/A.A6/SE/2016 mengenai Pakain Kerja Pegawai dilingkungan Kemdikbud.  Surat edaran ini ditujukan kepada Kepala UPT Kemdikbud Seluruh Indonesia.
  1. Hari Senin dan Kamis: Pakaian atasan berwarna putih dengan lengan panjang dan bawahan berwarna hitam/biru dongker ( warga gelap).
  2. Hari Rabu dan Jumat: Pakaian Batik
  3. Hari Selasa Minggu  1 dan 2: Pakain bebas rapi, tidak menggunakan jeans, bukan kaos, t-shirt dan tidak diperkenankan mengenakan sepatu kets, sandal.
  4. Upacara bendera: Upacara yang menggunakan baju Korpri, bawahan menggunakan celana/rok warna biru dongker dan wajibkan memakai peci dan lencana Tut Wuri Handayani.
Setiap pegawai diwajibkan menggunakan tanda pengenal sesuai Permendikbud no 56 tahun 2015 mengenai tanda pengenal pegawai di lingkungan kemdikbud.
 
Melalui edaran tersebut, diharapkan semua pegawai dilingkungan Kemdikbud baik pusat dan daerah harap melaksanakan aturan ini.

Dalam rangka peningkatan keteraturan, ketertiban dan integritas dan juga kerapian berpakaian pegawai Kemdikbud diperlukan pengaturan mengenai Pakaian Kerja Pegawai. Dan berhubungan dengan hal tersebut, maka pakaian seragam kerja dilingkungan Kemdikbud diatur sebagai berikut ini:

Surat Edaran Kemdikbud tentang Pakaian Kerja Pegawai Tertanggal  26 Januari 2016
demikian informasi yang dapat kami sampaikan semoga bermanfaat, salam PGRI
 
Supported by: _______________________________________________________
sponsor

Terima kasih telah berkunjung di Website Personal kami. Mohon berikan komentar Anda untuk meningkatkan kualitas berita kami. Layanan Liputan : 081327736138 | Email: saifudinmadugo@yahoo.com

SAIFUDIN-23-1-1024x294
 
 
 

SMK Ma'arif NU 01 Bumiayu Brebes study banding ke SMK Madu Go

MadugoNews (Gombong) - Dalam upaya meningkatkan mutu manajemen sekolah, SMK Ma’arif NU 01 Bumiayu Brebes melakukan study banding ke SMK Ma’arif 2 Gombong Kebumen di Jalan Kemukus Nomor 96B Gombong Sabtu (30/1) siang tadi.


Sebanyak 12 orang rombongan dari SMK Ma’arif NU 01 Bumiayu Brebes diterima di ruang kantor kepala SMK Ma'arif 2 Gombong oleh Kepala Sekolah, Ngadino, S.Kom dan para Waka serta struktural lainnya.


Dalam acara penerimaan studi banding tersebut, Zaenal Arifin, M.Si yang juga ketua rombongan dari SMK Ma’arif NU 01 Bumiayu Brebes itu menjelaskan, kedatangannya itu didasari pada banyak referensi tentang SMK Ma'arif 2 Gombong yang dikenal dengan sebutan SMK Madu Go secara nasional bahkan internasional.


Tujuan Study banding tersebut adalah untuk ngangsu kawruh (cari ilmu *red) bagaimana perjalanan manajemen sekolah SMK Madu Go untuk diterapkan dalam upaya pengembangan SMK yang sedang dirintisnya.


SMK Ma'arif NU 01 Bumiayu Brebes yang sedang mulai berkembang itu membutuhkan banyak hal-hal penting yang harus dilakukan oleh pihaknya untuk meningkatkan mutu manajemen sekolah yang dikelolanya, sehingga demikian pihak SMK Ma'arif NU 01 Bumiayu Brebes melakukan study banding ke beberapa sekolah lain yang dipandang mampu untuk dicontohnya termasuk SMK Madu Go.


Sebelum datang ke SMK Madu Go, rombongan SMK Ma'arif NU 01 Bumiayu Brebes yang berjumlah 12 orang itu juga melakukan study banding ke SMK Ma’arif 5 Gombong yang lokasinya tidak jauh dari SMK Madu Go yang terletak di Jalan Lingkar Selatan Patemon Gombong.


Dalam dialog yang disampaikan oleh ketua rombongan SMK Ma'arif NU 01 Bumiayu Brebes menilai bahwa SMK Madu Go ini sangat luar biasa dalam pengelolaan manajemen. Sementara pesan yang disampaikan oleh kepala SMK Madu Go, Ngadino, S.Kom kepada pihak SMK Ma'arif NU 01 Bumiayu Brebes itu diantaranya, bahwa manajemen berbasis sekolah harus diterapkan sesuai aturan yang ada, satu visi dari semua warga sekolah harus dijalankan bersama-sama, manajemen sekolah harus dikelola secara transparansi dan akuntabilitas publik.


Ngadino menambah bahwa kekuatan terbesar pada sekolah tersebut adalah karakter diri sekolah yang berbeda dari sekolah lain yang selalu ditonjolkan dan berani spekulasi didalam pengelolaan manajemen sekolah.


Setelah melakukan dialog, rombongan SMK Ma'arif NU 01 Bumiayu Brebes kemudian melakukan tinjauan ke beberapa lokasi SMK Madu Go diantaranya ruang administrasi, ruang waka, ruang guru, laboratorium komputer dan bengkel praktik Jurusan TAV, TKR, TPTU serta Gedung Rusunawa Ponpes An-Nahdliyah 2 Gombong.  (SaifudinMDG)

sponsor

Supported by: _______________________________________________________

Terima kasih telah berkunjung di Website Personal kami. Mohon berikan komentar Anda untuk meningkatkan kualitas berita kami. Layanan Liputan : 081327736138 | Email: saifudinmadugo@yahoo.com

SAIFUDIN-23-1-1024x294

Kamis, 21 Januari 2016

Khotmil Qur’an dan Akhirussanah Angkatan VI TPQ Nurul Jannah, berjalan meriah

Gombong (28/12/2015) Lembaga Taman Pendidikan Al-Qur’an Nurul Jannah Desa Patemon menggelar acara Khotmil Qur’an dan Akhirussanah Ke VI yang bertempat di halaman Musholla Nurul Jannah Patemon, Gombong Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.
Acara yang Bertemakan: “Menuju Generasi Bangsa Yang Qur’ani”, ini dihadiri oleh Bupati Kebumen terpilih Bapak Ir. H. M. Yahya Fuad, SE., Pembicara Ibu Dra. Hj. Titik Wahyuni, seluruh santri, wali santri, ustadz/ustadzah dari TPQ sekitar, khotimin/khotimat, tokoh masyarakat dan seluruh tamu undangan pada senin (28/12) pagi itu sukses di gelar dengan jumlah 12 santriwan/wati dan 4 santri untuk persiapan tahun depan.
TPQ Nurul Jannah asuhan Kyai Ahmad Daldiri ini menjadi salah satu pilihan orang tua untuk memberikan pendidikan dalam rangka membentuk moral anak yang sesuai dengan ajaran agama Islam. Jika selama ini orang tua-orang tua selalu memberikan pendidikan tambahan dengan les bahasa inggris, matematika, musik, komputer dan sebagainya, maka saat ini kita harus berfikir bagaimana cara untuk memberikan pelajaran lebih tentang ilmu keagamaan dalam menghadapi dunia yang kian bebas.
TPQ Nurul Jannah mulai menggunakan metode Qira’ati pertengahan tahun 2006 lalu, dan yang ke-6 kalinya, TPQ Nurul Jannah melaksanakan Tasyakuran Khataman dan Imtihan. Imtihan adalah salah satu bentuk pertanggungjawaban kepada wali santri sekaligus menjadi wadah syiar tentang pentingnya mengaji dan mempelajari Al-Qur’an.
Adapun Prosesi Khotmil Qur’an yang merupakan inti acara ini diantaranya adalah santri secara bergantian melafadzkan hafalan surat-surat pendek ; QS : Adh-Dhuha s.d. An-Nass, QS : Al-Baqarah : 1 – 5, QS : Al-Baqarah : 255, Santri melafadzkan hafalan bersamaan : QS : Al-Baqarah : 283-285, dan surat-surat pendek lainnya serta Do’a Khotmil Qur’an.
Setelah santri yang diwisuda tersebut menyelesaikan hafalannya, selanjutnya para pembimbing, ustadz/ustadzah dari TPQ lain beserta hadirin dipersilahkan mengajukan pertanyaan seputar bacaan tadi kepada santri atau pelajaran agama lainnya untuk mengetes peserta khotimin/khotimat, dan pertanyaan semua terjawab dengan benar dan tegas.
Dalam sambutannya ketua panitia kegiatan Khotmil Qur’an dan Akhirussanah Ustadz Satiman Nur Khafid menyampaikan beberapa hal terkait penyelenggaraan kegiatan tersebut. Selain sebagai wujud rasa syukur atas keberhasilan santri dalam mengikuti pembelajaran mengkaji Al-Qur’an dengan metode Qiraati, kegiatan Khotaman dan Imtihan yang terbuka ini merupakan wadah syiar tentang perlunya pembelajaran Al-Qur’an sejak dini dan harus ditangani dengan serius. “selamat untuk para alumni, semoga ilmu yang kalian dapatkan di sini bisa di amalkan” tegasnya.
Sementara itu Menurut Ketua Takmir Musholla TPQ Nurul Jannah H. Kamal Paimanuddin Sebanyak 12 peserta berusia sekitar 7-13 tahun mengikuti khotmil Quran yang ke-VI di TPQ Nurul Jannah, “Kegiatan khotmil Quran tersebut rutin dilaksanakan setiap setahun sekali, dan juga untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW Tahun 1437 Hijriyah, serta berkeinginan untuk membangun anak-anak yang mau mempelajari dan memahami ilmu Al-Quran,” ungkap H. Kamal saat ditemui saifudinmadugo.com, Senin (28/12).
Sebelumnya, sebanyak 12 peserta khotmil Quran ini dites terlebih dahulu oleh Koordinator Cabang Qiroati Kabupaten Kebumen. Jadi, para peserta tersebut diseleksi telebuh dahulu, apakah layak mengikuti khotmil Quran atau tidak?. Dan orangtua turut berperan aktif dalam mengembangkan anaknya agar bisa mempelajari Al-Quran dengan baik dan mampu mengamalkannya.
Dalam sambutannya kepala Desa Patemon Turiman Hadi Suwito Mengatakan “saya mengapresiasi kegiatan tersebut sangat bagus untuk syiar Islam dan mempererat ukhuwah Islamiyah”. “Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh panitia yang sudah berusaha menyelenggarakan kegiatan tersebut dengan maksimal.”
Ia juga menambahkan, ada sekitar puluhan anak didik yang mempelajari ilmu Al-Quran di TPQ Nurul Jannah, dari tahun ke tahun tentunya ada peningkatan jumlah anak didik yang mempelajari Al-Quran disini, dan Beliau berharap digelarnya khotmil Quran ini bisa memotivasi lagi anak-anak lain untuk mempelajari dan menghafal Al-Quran sejak dini.
“Kami berharap, TPQ Nurul Jannah bisa mencetak lulusan yang memahami hukum bacaan, dan menghafal surat pendek dalam Al-Quran, serta bisa mencetak generasi muda yang memiliki karakter jiwa keislaman,” jelasnya.
Dalam tausyiyah yang disampaikan oleh Dra. Hj. Titik Wahyuni menerangkan tanda-tanda cinta kepada Allah dan RosulNya diantaranya memperbanyak menyebut namaNya, memperbanyak istighfar, menauladani sifat Nabi, Mencintai orang-orang yang mencintai Allah, Keras terhadap orang-orang kafir, Berjihad di jalan Allah dan Tidak takut celaan dalam berpegang teguh terhadap agama.
Sementara itu Mulyani Setianingsih, salah satu wali murid prestasi terunggul yang mengikuti khataman tersebut, mengungkapkan bahwa ucapan syukur kepada Allah SWT dan terima kasih kepada ustadz/ustadzah TPQ Nurul Jannah desa Patemon yang telah membimbing putra/putrinya sehingga dapat membaca dan menulis Al-Qur’an dengan benar.
Yani berharap semoga semua orang tua selalu memantau putra/putrinya untuk selalu membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
IMG_20151228_125648Hadir dalam acara tersebut Bupati Kebumen baru, Ir. H. M. Yahya Fuad, SE. dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pelaksana yang telah menyukseskan acara Khotmil Quran ini. Harapnya, masyarakat Kebumen tetap eksis menggelar kegiatan seperti ini.
Dengan dirutinkannya khotmil Quran tiap bulan, semoga masyarakat Kebumen mendapatkan berkah dari Allah SWT, juga berkah rizkinya. Selain itu, mudah-mudahan dijauhkan dari segala musibah serta bencana.
Menurut Fuad, sebagai wahyu dari Allah SWT yang diturunkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW yang menjadi pedoman bagi setiap umat manusia, sebagai pedoman hidup guna menunjukkan kepada jalan kebaikan dan kebenaran, mengingatkan manusia agar berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah Nabi untuk selamat di dunia dan akhirat.
Seperti hadist yang diriwayatkan Bukhari “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” Al-Qur’an merupakan hidayah dan petunjuk bagi manusia serta pembeda antara yang haq dan yang bathil serta Al-Qur’an dapat memberikan syafaat/penolong di hari qiamat. “Untuk itu saya selalu mengajak masyarakat Kebumen agar selalu menjadikan Al-Quran sebagai Imam penuntun hidup,” harap Bupati baru Fuad.
Fuad Menambahkan bahwa dalam kepemimpinannya 5 tahun mendatang, beliau akan membuat Perda tentang kewajiban Baca Tulis Al-Qur’an (BTA), sehingga nanti anak-anak saat kelas 1 SMP bisa dijamin dapat membaca dan menulis Al-Qur’an. Beliau juga menegaskan, apabila diperda-kan BTA ini, ada administrasi teguran dari Pemerintah, apabila tidak mempunyai sertifikat BTA nanti bisa saja tidak bisa melanjutkan ke tingkat SMP.
“Kalau ada perda BTA, maka orang tua atau wali murid akan khawatir anaknya tidak bisa melanjutkan ke tingkat SMP apabila tidak bisa Baca Tulis Al-Qur’an, nah disaat itulah TPQ dan para ustadz/ustadzah akan bermartabat di mata masyarakat, dan semoga kita akan dipermudah segala urusan oleh Allah SWT.” Tegas Fuad.
“sekali lagi selamat kepada para peserta Khotmil Qur’an, semoga dengan khatamnya Al-Qur’an tidak berhenti sampai disini, akan tetapi lebih semangat dalam mempelajari dan juga mengartikan serta mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari”. Imbuh Fuad. (SaifudinMDG)
_______________________________________________________
Terima kasih telah berkunjung di Website Personal kami. Mohon berikan komentar Anda untuk meningkatkan kualitas berita kami.
Layanan Liputan : 081327736138 | Email: saifudinmadugo@yahoo.com
SAIFUDIN-23-1-1024x294

DIALOG RAMADHAN DENGAN TEMA “KEDUNGPUJI MEMBANGUN DALAM TINJAUAN SYARIAH”

Tahun 2015 : Saatnya Kantor Desa dan Masjid Sinergi
Sore (Sabtu, 7/7/2015) menjelang kaum muslimin Desa Kedungpuji Kecamatan Gombong yang sedang menjalani ibadah puasa mengakhiri hari ke-20 dengan berbuka puasa terjadilah sebuah kegiatan yang menarik.
Sekitar 50-an orang yang terdiri dari unsur pemdes, lembaga-lembaga desa, ketua takmir masjid-mushola dan para dai-daiyah serta tokoh-tokoh masyarakat se Kedungpuji hadir di Aula Kantor Desa dalam acara Dialog Ramadhan yang diadakan oleh pemdes setempat.
Tema yang diangkat dalam dialog tersebut adalah “Kedungpuji Membangun dalam Tinjauan Syariah” dengan nara sumber pada acara tersebut, Mustika Aji, S.Pd yang biasa dipanggil dengan sebutan Kang Aji.
Beliau merupakan seorang aktifis muslim yang banyak terlibat pada program-program advokasi desa di Kabupaten Kebumen. Bahkan sudah sering diundang untuk kegiatan-kegiatan serupa di beberapa wilayah di tanah air.
Pengantar dialog disampaikan oleh Bambang Purwanto, S.Ag. yang dikenal sebagai aktifis masjid yang merupakan moderator pada forum tersebut. Menurutnya selama ini istilah pembangunan sudah sangat akrab bagi masyarakat. Tetapi yang perlu dicermati apakah proses pembangunan tersebut betul-betul memberikan kemaslahatan bagi masyarakat? dibuktikan dengan peningkatan kesejahteraan atau justru yang terjadi sebaliknya. Bukan pembangunan tetapi perusakan.
Seperti yang disinggung dalam Al-Qur’an tentang pembangunan yang dilakukan oleh orang-orang munafik. Masih menurut Bambang di sinilah urgensi dan strategisnya pertemuan ini sebagai media komunikasi antara pemdes dan para aktifis masjid dan mushola. Sehingga situasi selama ini yang ditandai oleh tidak adanya kerja sama antara kantor desa dengan masjid-mushola bisa diakhiri.
Harapannya adalah dengan dialog tersebut dapat dijadikan sebagai langkah awal menyamakan persepsi dan merumuskan langkah-langkah yang sinergik bagi keberlangsungan pembangunan di Desa Kedungpuji. Sehingga pada saatnya “blue-print” dari kegiatan “mbangun desa” tersebut, dapat disepakati oleh semua elemen yang ada.
Bagi Mustika Aji sendiri ternyata dialog tersebut tidak seperti dialog-dialog yang selama ini pernah diikuti. Karena di sini bukan hanya mengarah pada usaha tata kelola pemerintahan yang baik tetapi ada perspektif yang luar biasa yakni bagaimana agar desa tidak hanya menjadi qoryah thayyibah saja tetapi juga diampuni dan diridhai oleh Allah.
Kang Aji juga mengingatkan bahwa rumusan dari langkah-langkah untuk mewujudkan hal tersebut dalam bentuk RPJMDes (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa). Karena dokumen tersebut September harus sudah jadi maka tinggal sekitar 2 bulan bagi pemdes untuk menyelesaikannya.
Untuk itu saran Kang Aji harus segera diadakan forum-forum di masyarakat oleh simpul-simpul yang ada termasuk oleh para aktifis masjid-mushola. Dari hasil pembahasan forum-forum tersebut kemudian diteruskan sebagai bahan masukan bagi tim perumus RPJMDes di tingkat desa. Sehingga “glontoran” dana ke desa sebagai konsekuensi UU No. 6 Tahun 2014 tentang desa bisa betul-betul dialokasikan untuk pembangunan baik fisik maupun non-fisik dengan maksimal.
Ternyata lontaran pemikiran dari Kang Aji sangat menarik. Dibuktikan oleh adanya beberapa peserta dialog sebagai penanggap. Misalnya Munarsis yang menanyakan bidang-bidang apa saja yang boleh dimasukkan untuk rencana pembangunan yang non fisik???
Pada sesi tanya jawab tersebut, Drs. Agus Mohammad Jumali, M.Pd. menanyakan tentang komitmen pemdes untuk serius dalam usaha pembangunan desa yang bisa menyelematkan masyarakat dari praktek budaya dan transaksi ekonomi yang bertentangan dengan syariah Islam misalnya perjudian.
Sementara itu, masukan dari Muchyani, A.Ma.Pd. ternyata selama ini sudah ada perhatian dari pemdes kepada TPQ dan kegiatan remaja masjid dibuktikan dengan ada bantuan dana dari desa. Soal apakah bantuan tersebut sudah proposional atau belum dia mengaku tidak tahu karena saat musrenbangdes tidak pernah diundang sebagai peserta.
Tampaknya masih banyak pertanyaan yang akan disampaikan oleh para peserta dialog akan tetapi karena terbatasnya waktu sehingga dicukupkan hanya satu termin saja. Salah satunya adalah apa kontribusi aktifis muslim dalam sejarah terbitnya UU No. 6 Tahun 2014 tentang desa itu ???.
Berdasarkan catatan Misbah Sukmadi dalam bukunya ADD (Alokasi Dana Desa) & Geliat Perjuangan Masyarakat Desa justru adanya regulasi yang mengamanatkan kepada negara untuk mengalokasikan dana ke desa dari APBN itu rintisannya bermula dari Kabupaten Kebumen.
Dalam kaitan ini tidak bisa dilupakan pelaku sejarah tersebut, yang notabene seorang warga Desa Kedungpuji yakni Dra. Sri Winarti, M.H. (Anggota DPRD Kebumen 1999 – 2004 dari Partai Bulan Bintang) yang telah ikut membidani lahirnya Perda No. 3 Tahun 2004 tentang Alokasi Dana Desa.
Karena beliau menjadi tokoh kunci bagi disahkannya raperda tersebut dalam sidang DPRD Kebumen. Seperti yang diuraikan oleh Misbah: “Beruntung masih ada Dra. Sri Winarti dari F-Reformasi, yang datang terlambat, yang pada saat-saat tergenting itu menegaskan bahwa fraksinya menolak penundaan dan meminta pada rekan-rekannya di DPRD Kebumen supaya Perda ADD disahkan sebelum pemilu.
Dengan sikap tegasnya itu maka aspirasi dari masyarakat desa (Raperda ADD) ini dapat diselamatkan”. Kini setelah beliau tidak lagi sebagai anggota dewan tetap berkarya dalam membangun kesalehan pribadi dan kesalehan sosial melalui Yayasan Bina Insani Kebumen.
Sebuah perubahan yang baik di desa akan terjadi jika komunikasi yang lancar antara pemdes dan pilar-pilar masyarakat yang ada khususnya para aktifis masjid-mushola terus digalang. Maka Dialog Ramadhan kiranya bisa dijadikan agenda tahunan untuk saling bertemu dan berbagi pemikiran.
Selain itu dapat di jadikan sebagai media komunikasi lainnya yang mingguan seperti mimbar Jumat saat para birokrat desa bisa mendengarkan khutbah. Dengan komunikasi yang terjalin maka seperti yang dikatakan Ibnu Khaldun solidaritas sosial, penguatan SDM dan jiwa optimis yang dibuktikan dengan kerja keras dapat diwujudkan.
Sehingga cita-cita menjadikan Desa Kedungpuji sebagai Qoryah Thayyibah wa Robbun Ghafur bukan isapan jempol belaka.
Intanshurulloha yanshurkum wa yutsabbit aqdamakum. Allohu Akbar!!!
Kontributor : @MasPur
Editor : @SaifudinMaduGo
_______________________________________________________
Terima kasih telah berkunjung di Website Personal kami. Mohon berikan komentar Anda untuk meningkatkan kualitas berita kami.
Layanan Liputan : 081327736138 | Email: saifudinmadugo@yahoo.com
SAIFUDIN-23-1-1024x294

Sejarah Masjid Nurul Falaah Desa Kedungpuji, Gombong

Kyai Bahruddin bin Haji Aulawi dan K.H Ahmad Ridwan (Romelan Abdullah) Bin Haji Abdul Mu`in adalah dua orang Tokoh Islam yang tak bisa dipisahkan dengan berdiri dan berkembangnya Masjid Nurul Falaah & Rintisan Dakwah Islam di Dukuh Pucang atau bahkan di Desa Kedungpuji dan sekitarnya.
Pucang adalah salah satu pedukuhan di desa Kedungpuji Kec. Gombong Kab. Kebumen Provinsi Jawa Tengah. Masih ada beberapa pedukuhan yang lain seperti Ngentak Gumawang, Dukuh Plana dan Dukuh Kedunglo. Dukuh Pucang konon dulunya adalah merupakan sebuah Kadipaten bagian dari kekuasaan Kasunanan Surakarta yang kemudian berpindah menjadi Kadipaten Roma Jatinegara (sekarang masuk wilayah Kec. Sempor). Didalam cerita konon terkenal Adipatinya yang bernama Adipati Jono yang berebut calon isterinya Roro Sulastri dengan Joko Puring.
Ketika Pucang menjadi kadipaten, pedukuhan Kedunglo masih menjadi hutan di pinggir sungai yang banyak pohon Elo maka disebut sebagai Kedung Lo. Lalu di kemudian hari dari beberapa pedukuhan bergabung dibentuk menjadi satu desa dengan nama Kedungpuji, yang maksudnya jelas bukan ada kedung yang dipuji yang dapat membuat kemusyrikan disamping di desa Kedungpuji tak ada sebuah kedung, tetapi warga desa ini banyak memuji Hyang Maha Agung (Allah Subhanahu Wata`ala) maksudnya agar warga desa Kedungpuji menjadi manusia yang pandai mensyukuri anugerah dari Yang Maha Kuasa.
Lurah atau Kepala Desa Kedungpuji sejak jaman perjuangan adalah Bapak Samijo Singo Dimejo (bapak dari Mas Jasimin, Mbak Zubaidah,S.Pd., Mas Bardiantoro, Mas Arifudin Karyono,S.Pd., Mas Joharman Cs) yang sebelumnya desa ini dipimpin oleh Ki Lurah Karta Senjaya (kakek dari Mas Bambang Wijonarko-Mas Wiwi Cs)
Masjid Nurul Falaah dan Pesantren
Masjid Nurul Falaah dukuh Pucang Desa Kedungpuji didirikan sekitar tahun 50an oleh Kyai Bahruddin yang mendapat tanah wakaf dari Keluarga Zainuddin. Karena pada jaman itu masih banyak pemuda remaja kampung yang ingin mencari ilmu agama maka di masjid Kedungpuji juga ada pondok pesantrennya.
Santri yang belajar banyak dari berbagai pelosok desa, ada yang menginap ada juga yang tidak menginap (santri kalong) salah satu santri yang masih hidup yaitu Kyai Qomarun, sekarang menjadi Kyai di Masjid Nurul Yaqin Jrabang-Desa Grenggeng dan masih banyak santri-santri yang lain yang hanya mengaji pokok-pokok ajaran agama Islam saja.
Almarhum Kyai Bahruddin termasuk Kyai Kharismatik, sehingga banyak santri-santri yang sowan kepada beliau dari luar kabupaten dan beliau juga sering tabligh ke pelosok desa apalagi kalau bertepatan hari raya Islam seperti Maulid Nabi dan Peringatan Isro’ Mi’roj
Beliau putra Haji Aulawi dari Kebarongan Wetan (Kebarongan termasuk wilayah Banyumas, ada 2 blok Wetan dan Kulon, di Kebarongan Kulon ada Pondok Pesantren Wathoniyah Islamiyah) Kyai Bahruddin adalah menantu Kyai Sayuti yang merupakan penduduk asli Kedungpuji dan konon masih bernasab keturunan Adipati Pucang Raden Jono, yang terkenal pada cerita Babad Pucang.
Di Kedungpuji ada dua Tokoh Agama, selain Bapak Kyai Bahrudin ada juga Bapak Romelan Abdullah yang kemudian dikenal menjadi K.H. Ahmad Ridwan Al-Badrie seorang kyai kampung aktifis Masyumi dan pernah jadi guru Alm. Bapak Brig. Jend. Burhani Cokro Handoko-Dirjen Bimas Islam, dan sama-sama aktif sebagai Pejuang dalam Kelaskaran Hizbulloh dan Sabilillah.
Pada awalnya Kyai Bahruddin tidak suka ikut di Politik dan cenderung membatasi agar murid-muridnya jangan ikut-ikutan di politik namun setelah diberi penjelasan oleh isteri K.H. Ahmad Ridwan, Ibu Hj. Mungazimah betapa pentingnya politik dalam perjuangan Islam, maka Kyai Bahruddin menyadarinya.
Begitu mudahnya Kyai Bahruddin menerima penjelasan dari Ibu Hj. Mungazimah padahal beliau terkenal sebagai tokoh yang disegani, untuk menghadap saja orang sudah banyak yang takut, adalah karena ternyata Kyai Bahrudin masih murid Kyai Bakri orang tua Ibu Mungazimah, Kyai Bakri juga masih teman dari Kyai Sayuti mertua dari Kiyai Bahrudin.
K.H. Ahmad Ridwan atau Pak Romelan Abdullah dan Kyai Bahrudin adalah dua sosok yang amat berbeda dan banyak mempunyai perbedaan pemahaman (ikhtilaf), bukan saja dalam sikap politik yang akhirnya Kyai Bahrudin mengikuti langkah Pak Romelan juga dalam masalah cabang-cabang (furu`) masalah agama.
Kyai Bahrudin banyak mempelajari ilmu hikmah seperti Kitab Syamsul Ma`arif dll, sedang Pak Romelan lebih banyak mempelajari Bahasa Arab seperti Nahwu Shorof dan juga ilmu Tafsir seperti Al Jalalain, Maroghi, Khozin, Jauhar dll. Namun dari perbedaan itu beliau hampir tidak pernah berselisih, paling tidak dihadapan umat, amat jarang yang tahu bahwa antara beliau berdua mempunyai perbedaan dalam cabang-cabang masalah agama Islam.
Hal ini perlu jadi tauladan bagi generasi berikut dalam pensikapannya masalah perbedaan pendapat dalam masalah cabang (ikhtilaf fil furu`). Umat tak usah gelisah dengan adanya perbedaan yang penting disikapi dengan cerdas dan lapang ada (tasamuh).
Era Kepengurusan Kaum Muda
Setelah sekian lama masjid Nurul Falaah Desa Kedungpuji tak mempunyai sesepuh sebagai rujukan dalam masalah agama maka sampailah pada kepemimpinan Takmir oleh Mas Bambang Purwanto S.Ag. Orang asli Kedungpuji putra dari Bapak Supyan seorang tokoh masyarakat Kedungpuji yang cukup kesohor di Desa Kedungpuji.
Mas Bambang adalah alumni Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga (sekarang Universitas Islam Negeri-UIN), beliau adalah seorang aktifis Islam sejak masih di sekolah menengah sampai sekarang beliau adalah Sekretaris Dewan Dakwah Islamiyah Kabupaten Kebumen disamping Pegawai Kementeriran Agama Kabupaten Kebumen.
Secara Nasbul-Ilmi beliau termasuk murid Bapak K.H. Ahmad Ridwan Al Badrie walau tak pernah mondok secara formal tapi kemampunan dasar bahasa Arabnya tak kalah dengan yang pernah mondok, itu terbukti waktu beliau kuliah di IAIN.
Sebagai seorang modern gaya kepemimpinan beliau dalam mengelola masjid mengutamakan secara managemen profesional, egaliter, tidak sentralistik dan mengutamakan musyawarah mufakat. Masjid dikelola secara modern karena tak ada lagi tokoh sentral sebagaimana tata kelola secara tradisional.
Takmir masjid periode baru ini cukup ambisius yang menghendaki bagaimana masjid sebagai pusat perubahan dan pusat peradaban, tidak sebagaimana takmir pada umumnya yang hanya mengelola fisik masjid tapi bagaimana masjid berdaya untuk bisa menjadi agen perubahan.
Seiring dengan perkembangan jaman dan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, maka Mas Bambang Purwanto pun mengelola masjidnya dengan menggandeng ahli IT asli Kedungpuji (mas Udin) anak dari Kang Panut (Abu Sholeh) dimana beliau adalah salah satu murid dari K.H. Ahmad Ridwal Al Badrie.
Dengan menggunakan sistem digital seperti pembuatan website dan memanfaatkan jejaring sosial (Facebook, twitter) maka informasi Masjid Nurul Falaah tidak hanya diketahui oleh warga desa Kedungpuji saja, akan tetapi dapat secara langsung diketahui oleh warga Kedungpuji yang berada di perantauan.
Dengan demikian misi masjid Nurul Falaah dalam pasal 2 yaitu “melakukan tata kelola masjid yang memenuhi prinsip-prinsip partisipatif, transparansi dan akuntabilitas publik” itu tercapai.
Masjid sebagai Pusat Peradaban
Adalah menjadi kewajiban masyarakat agar mendukung program ini karena tanpa dukungan masyarakat maka ide ini hanya akan menjadi hiasan dan angan-angan saja. Agar ide-ide tentang perubahan yang di usung oleh masyarakat masjid ini lebih berdaya maka aktifis masjid harus ikut menentukan pola anggaran pemerintah desa, karena tanpa itu masjid hanya akan menjadi lembaga eksklusif yang tak punya pengaruh di masyarakat, padahal masjid adalah diharapkan menjadi lembaga yang paling cerdas di tingkat desa.
Di tingkat desa, paling tidak ada 2 lembaga yang bisa merubah desa, yaitu lembaga pemerintahan Desa dan lembaga kepengurusan masjid, yang membedakan Desa mempunyai pendanaan yang pasti dan merupakan kekuasaan formal sedangkan Lembaga Masjid tidak mempunyai pendanaan yang pasti dan kepengurusannya cenderung sebagai kegiatan sampingan. Maka dari itu antara kepengurusan Masjid dan Pemerintahan Desa harus ada sinergi yang baik demi terbangunnya masyarakat yang sholih dan maju.
Apalagi desa kedepannya akan mendapat pendanaan yang mencukupi untuk melakukan perubahan di desa, maka masyarakat masjid diharap ikut cermat sejak pada tingkat musyawarah perencanaan tingkat desa (musrenbangdes), karena diharap kedepannya permintaan pendanaan ke pemerintahan dari desa ke tingkat kabupaten dan propinsi tidak lagi memakai koneksi-koneksi yang mengarah kepada kolusi dan nepotisme.
Bila terbangun kerja sama yang cerdas dan cermat antara masjid dan balai desa di seluruh negeri ini maka akan terjadi perubahan sosial yang amat signifikan dan terbentuknya masyarakat yang beriman dan bertaqwa sebagai syarat turunnya barokah Allah Swt dari langit dan bumi bukan hal yang mustahil. Allahu Akbar !***
Penulis : Ustadz Abu Farah Al Badri
_______________________________________________________
Terima kasih telah berkunjung di Website Personal kami. Mohon berikan komentar Anda untuk meningkatkan kualitas berita kami.
Layanan Liputan : 081327736138 | Email: saifudinmadugo@yahoo.com
SAIFUDIN-23-1-1024x294