Minggu, 08 September 2019

Sejarah Budaya Kota Lama Gombong Tarik Wisatawan Luar


GOMBONG (beritagombongofficial) - Pariwisata di Kabupaten Kebumen kini kian bervariasi. Bukan saja objek wisata pantai maupun panorama alam bukit, juga tentang wisata berbasis sejarah budaya (heritage). Jika biasanya susur sejarah milik kota besar seperti Jakarta ataupun Semarang, Kebumen juga mengembangkan wisata minat khusus ini.
Salah satu wisata heritage yang tengah digalakkan yaitu di Kecamatan Gombong. Kota lama Gombong memiliki sejarah budaya yang khas dan menarik. Bahkan, wisata jenis ini bukan saja menarik untuk para wisatawan lokal tetapi juga luar daerah.
Kepala Roemah Martha Tilaar, Alona Ong yang konsen dalam pengembangan wisata heritage semisal telah mengembangkan dua jalur wisata di Gombong. Dimana sisi Barat dengan didominasi sejarah kaum Tionghoa dan Militer Belanda. Jalur susur anyar yaitu jelajah Timur yang banyak diwarnai kehidupan kalangan sipil, pendidikan, masyarakat tradisional dan kawasan saudagaran.
"Total ada duapuluh empat titik yang kami gali potensi sejarahnya. Untuk memudahkan para wisatawan, kami membaginya menjadi dua jalur dengan pertimbangan lokasi, waktu tempuh serta kesesuaian tema," katanya, Sabtu (7/9/2019).
Menurut Alona, wisata jelajah heritage ini merupakan satu dari rangkaian kegiatan dalam rangka pameran sejarah bertema Mencari Diri. Dirinya berharap, masyarakat Gombong dapat semakin terbangun kebanggaan dan kepeduliannya terhadap berbagai warisan budaya yang dimiliki. Selain itu juga ingin menginspirasi para pelaku wisata di desa-desa wisata untuk menggali potensi wisata budaya di desanya masing-masing.
"Survei sudah membuktikan bahwa budaya menjadi faktor dominan dalam keberhasilan suatu usaha wisata," tutur Alona.
Jelajah Pusaka yang dilakukan diikuti dua luluh lima wisatawan dari Solo dan Yogyakarta. Mereka dipandu oleh salah satu pemerhati budaya Sigit Asmodiwongso. Mereka menyusuri jalur sepanjang kurang lebih 7 kilometer, berawal dari sisi Utara Jalan Gereja dan berakhir di Pemakaman Karangduren.
Menurut Sigit, banyak kisah menarik yang dapat diperoleh dalam heritage di jalur Timur Gombong. Titik awal adalah sebuah hotel yang dikelola oleh Eizkel Rapaport pada awal 1900an. Selain hotel, keluarga ini juga memiliki toko dan pabrik limun. Kemudian menyusuri kawasan pemukiman pegawai Belanda, makam Mbah Giyombong, kawasan saudagaran hingga berakhir di pemakaman umum Karangduren."Pemakaman Karangduren sengaja kita pilih sebagai titik akhir," Jelasnya. (*)

0 komentar:

Posting Komentar